Jakarta — Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan bahwa literasi di era kecerdasan buatan (AI) merupakan fondasi penting bagi lahirnya kepemimpinan nasional yang kuat, beretika, dan visioner. Di tengah laju teknologi yang kian cepat, literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca teks, melainkan kecakapan memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Perpusnas memandang, pemimpin masa depan harus mampu berdialog dengan teknologi—bukan ditentukan olehnya.
Literasi yang Berevolusi
Di era AI, literasi berkembang menjadi multidimensi: literasi data, literasi digital, literasi informasi, dan literasi etika. Kemampuan ini diperlukan agar generasi penerus bangsa mampu memilah informasi, mengenali bias algoritma, serta mengambil keputusan berbasis nilai dan kepentingan publik.
Perpusnas menekankan pentingnya penguatan budaya baca dan nalar kritis sejak dini, sebagai tameng terhadap disinformasi dan ketergantungan berlebihan pada teknologi.
Kepemimpinan Berbasis Pengetahuan
Menurut Perpusnas, kepemimpinan nasional yang tangguh lahir dari kedalaman pengetahuan dan kejernihan berpikir. AI dapat membantu analisis dan efisiensi, namun arah kebijakan tetap membutuhkan penilaian manusia—empati, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial.
Literasi yang kuat memastikan pemimpin tidak sekadar “mengikuti data”, tetapi memahami konteks, dampak, dan konsekuensi kebijakan bagi masyarakat luas.
Human Interest: Dari Ruang Baca ke Ruang Keputusan
Di balik wacana besar, ada praktik nyata: perpustakaan sebagai ruang aman untuk belajar, berdiskusi, dan mengasah nalar. Anak muda yang terbiasa membaca dan berdialog akan tumbuh menjadi warga yang kritis—calon pemimpin yang berani bertanya dan mendengar.
Perpusnas mendorong transformasi perpustakaan menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, memadukan koleksi fisik, digital, dan program literasi AI yang inklusif.
Keamanan Publik dan Etika Teknologi
Literasi AI juga berkaitan dengan keamanan publik. Pemahaman yang baik mencegah penyalahgunaan teknologi, melindungi privasi, dan memperkuat etika dalam pengambilan keputusan. Pemimpin yang literat AI akan lebih siap merumuskan regulasi yang melindungi warga sekaligus mendorong inovasi.
Kolaborasi untuk Dampak Berkelanjutan
Perpusnas mengajak kolaborasi lintas sektor—pendidikan, komunitas, media, dan industri—untuk memperluas jangkauan literasi. Program pelatihan, kurasi konten tepercaya, dan penguatan pustakawan sebagai fasilitator literasi menjadi bagian dari strategi berkelanjutan.
Penutup
Penegasan Perpusnas bahwa literasi di era AI adalah fondasi kepemimpinan nasional menempatkan manusia di pusat kemajuan teknologi. Dengan literasi yang kuat, AI menjadi alat; tanpa literasi, ia berpotensi menjadi penentu.
