Airlangga Sebut Ketergantungan RI ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa tingkat ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz relatif terbatas, yakni hanya sekitar 20 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu arus perdagangan energi global, khususnya minyak mentah dan gas. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, yang menjadi penghubung utama pengiriman energi dari negara-negara produsen di Teluk ke berbagai negara konsumen.
Menurut Airlangga, meskipun Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energi melalui jalur tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai langkah diversifikasi sumber pasokan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko gangguan distribusi yang dapat berdampak pada stabilitas energi nasional.
“Ketergantungan kita ke Selat Hormuz sekitar 20 persen, sehingga relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara lain yang sangat bergantung pada jalur tersebut,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat strategi ketahanan energi dengan menjalin kerja sama dengan berbagai negara mitra serta meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Selain itu, pengembangan energi alternatif dan terbarukan juga menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil.
Di sisi lain, Baca Selengkapnya…
