Menko IPK Dorong Riset Terapan untuk Ketangguhan Infrastruktur

Jakarta (LIGA335) — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) mendorong penguatan riset terapan guna meningkatkan ketangguhan infrastruktur nasional menghadapi tantangan bencana alam dan perubahan iklim. Riset yang berorientasi pada solusi praktis dinilai krusial agar pembangunan infrastruktur tidak hanya masif, tetapi juga aman, adaptif, dan berkelanjutan.

Menko IPK menegaskan bahwa Indonesia berada di wilayah rawan gempa, banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Karena itu, hasil riset harus mampu diterjemahkan menjadi standar desain, metode konstruksi, dan material yang aplikatif di lapangan.

“Riset harus menjawab kebutuhan nyata. Kita perlu jembatan, jalan, bendungan, dan kawasan permukiman yang lebih tangguh terhadap risiko bencana,” ujarnya dalam forum koordinasi pembangunan infrastruktur.

Fokus pada Solusi Praktis dan Standar Teknis

Riset terapan diarahkan pada pengembangan material tahan bencana, sistem peringatan dini terintegrasi dengan infrastruktur, serta teknologi konstruksi yang efisien dan ramah lingkungan. Hasil penelitian diharapkan dapat memperbarui standar teknis dan kode bangunan, sekaligus menjadi rujukan dalam proyek strategis nasional dan daerah.

Menko IPK juga menekankan pentingnya uji coba lapangan (pilot project) agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan terbukti efektif saat diimplementasikan.

Kolaborasi Pemerintah–Akademisi–Industri

Untuk mempercepat dampak, Menko IPK mendorong kolaborasi lintas sektor antara kementerian/lembaga, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri konstruksi. Skema pendanaan riset bersama serta kemitraan industri dinilai dapat mempercepat adopsi inovasi ke proyek nyata.

“Kolaborasi akan memperpendek jarak dari riset ke implementasi. Industri juga berperan penting dalam skala dan standardisasi,” kata dia.

Integrasi dengan Perencanaan Wilayah

Selain aspek teknis, riset terapan juga diharapkan memperkuat perencanaan kewilayahan berbasis risiko. Data kebencanaan, hidrologi, dan geologi perlu terintegrasi dalam perencanaan tata ruang agar pembangunan tidak menambah kerentanan.

Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, pemerintah akan mengarahkan prioritas riset pada ketangguhan infrastruktur kritis—transportasi, energi, air, dan permukiman—serta mendorong penggunaan hasil riset sebagai syarat perencanaan dan pelaksanaan proyek.

Dengan dorongan riset terapan yang kuat, Menko IPK optimistis pembangunan infrastruktur Indonesia akan semakin tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus melindungi keselamatan masyarakat dan aset nasional.