Khofifah: OPOP Harus Naik Kelas Lewat Inovasi dan Teknologi ITS

Surabaya (liga335) — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa program One Pesantren One Product (OPOP) harus naik kelas dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Menurutnya, kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi teknologi menjadi kunci penguatan daya saing ekonomi berbasis keumatan.

Khofifah menilai OPOP telah menjadi fondasi penting pengembangan ekonomi pesantren di Jawa Timur. Namun, tantangan ke depan menuntut transformasi yang lebih serius, khususnya dalam aspek teknologi produksi, kemasan, hingga pemasaran digital.

“OPOP harus naik kelas. Pesantren tidak hanya kuat secara nilai, tetapi juga unggul secara inovasi dan teknologi. Di sinilah peran ITS sangat strategis,” ujar Khofifah.

Kolaborasi Pesantren dan Perguruan Tinggi

Khofifah mendorong ITS untuk terlibat aktif mendampingi pesantren peserta OPOP, mulai dari riset produk, efisiensi proses produksi, standardisasi mutu, hingga penerapan teknologi tepat guna. Dengan dukungan akademisi dan mahasiswa, produk pesantren diharapkan mampu bersaing di pasar nasional bahkan global.

Ia menilai sinergi ini akan menciptakan ekosistem ekonomi pesantren yang berkelanjutan, modern, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Teknologi untuk Tingkatkan Daya Saing

Menurut Khofifah, pemanfaatan teknologi sangat penting untuk mendorong peningkatan nilai tambah produk OPOP. Inovasi di bidang pengemasan, pengolahan pangan, teknologi ramah lingkungan, serta digitalisasi pemasaran menjadi fokus utama agar produk pesantren tidak tertinggal.

“Dengan sentuhan teknologi, produk pesantren bisa lebih efisien, higienis, dan memiliki daya tarik pasar yang lebih luas,” katanya.

Peran ITS dalam Inovasi Sosial

ITS menyatakan kesiapan mendukung pengembangan OPOP melalui pendekatan riset terapan dan pengabdian masyarakat. Kampus diharapkan menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil pesantren, termasuk dalam pengembangan UMKM berbasis pesantren.

Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren

Khofifah menekankan bahwa OPOP bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga upaya membangun kemandirian pesantren dan memperkuat ekonomi daerah. Dengan naik kelasnya produk OPOP, pesantren diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal.

“Pesantren punya potensi besar. Jika didukung inovasi dan teknologi, dampaknya akan sangat luas bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Target Jangka Panjang

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan OPOP menjadi model pengembangan ekonomi pesantren yang terintegrasi, berbasis inovasi, dan berorientasi pasar. Kolaborasi dengan ITS diharapkan menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi di daerah lain.

Dengan transformasi berbasis teknologi, OPOP diyakini mampu mencetak produk unggulan pesantren yang kompetitif dan berkelanjutan.